Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Archive for the ‘iklan’ Category

Kabar Gembira ! Adobe Flash diharamkan oleh Google Chrome mulai 1 September 2015

Ada satu kabar gembira bagi dunia internet di tahun 2015 yakni per 1 September 2015 semua tampilan berbasis Adobe Flash di website yang dibuka menggunakan browser Google Chrome akan diblok dan tidak dapat ditampilkan .

Saat ini masih banyak website seperti detik.com , kompas.com yang masih terpaku dengan aturan jadul yang banyak memasang iklan berbasis adobe flash di website mereka yakni iklan animasi yang bertebaran  di setiap halaman di website atau portal portal ngetop di Indonesia .

Selamat Tinggal Adobe Flash yang menjengkelkan !  Selamat Datang HTML5

Bagi website website populer di Indonesia yang berburu pendapatan dari iklan banner yang umumnya berbasis Adobe Flash , mulai sekarang lebih kreatif lah dengan menggunakan HTML5 .  Pemilik website website populer harusnya menyadari bahwa saat ini lebih banyak orang membuka website mereka di handphone daripada di komputer sehingga website berbasis Adobe Flash sangat tidak cocok untuk media yang dipakai konsumen untuk melihat webstie .

Bagi para programmer / pembuat coding , ada kesempatan bagi anda yang jago HTML5 untuk unjuk kebolehan dan unjuk kemampuan .  Harga keprofesionalan anda pasti akan dihargai karena kreatifitas anda melakukan coding HTML5  pasti tinggi harganya  karena keputusan dadakan Google Chrome ini pasti membuat ahli coding HTML5 banyak dicari .

Bagi jagoan tools Adobe Flash yang tinggal klik sana klik sini dan langsung jadi hasil tampilan  Adobe Flash anda , bertobatlah dan mulailah beralih ke HTML5

 

chrome1

 

Beginilah tampilah website yang menggunakan Adobe Flash kalau dibuka dengan Google Chrome mulai 1 September 2015 :

chrome2

 

http://www.konsultansolusi.com

info@konsultansolusi.com

 

Iklan

Pantau surat pembaca untuk kemajuan perusahaan

Di era internet saat ini dengan adanya blog, facebook , twitter dan blackberry , penyebaran sebuah keluhan atas layanan suatu perusahaan atau suatu produk sangat cepat tersebar dan konsumen lebih percaya dari keluhan sesama konsumen daripada iklan dari perusahaan dan konsumen pasti mengeluh jika tidak puas dan diam saja jika puas.

Jika sebuah perusahaan berani mengeluarkan budget untuk pemasaraan tentunya perusahaan tersebut mau maju dan mau menghasilkan laba . Sayangnya banyak perusahaan tidak memasukkan satu bagian ke dalam bagian dari aktifitas pemasaran yakni memantau surat pembaca .

Aktifitas pemasaran dan reputasi perusahaan , reputasi produk dan reputasi layanan bisa terganggu hanya oleh sebuah surat pembaca. Ibarat susu sebelanga rusak oleh nila setitik , kemarau setahun dihapus oleh hujan sehari.

Jika diperhatikan , mayoritas perusahaan belum memiliki petugas khusus yang memantau surat pembaca , surat elektronok, pesan blackberry dan pesan group komunitas di forum internet . Dalam struktur perusahaan dan dalam job description perusahaan belum ada posisi pemantau surat pembaca.

Padahal melalui surat pembaca , komplain di internet , curhat konsumen di forum internet , sebuah perusahaan dapat mengetahui dan mengukur efektifitas budget marketing yang dikucurkan , berjalan atau tidaknya standar operasi perusahaan , perlu tidaknya perusahaan menyesuaikan standar operasi dengan perkembangan jaman , perlu tidaknya perusahaan meluncurkan strategi marketing yang baru.

Perusahaan dapat mulai memantau surat pembaca di internet melalui 3 portal / forum yang memiliki pengunjung terbanyak yakni :

http://www1.kompas.com/suratpembaca

http://suarapembaca.detik.com/

http://www.kaskus.co.id/forum/188/surat-pembaca

Perusahaan dapat mulai memantau surat pembaca melalui ketiga portal di atas dan juga tentunya melalui media cetak koran . Melalui pemantauan surat pembaca tersebut dapat diketahui kelemahan perusahaan anda. Melalu surat pembaca anda dapat juga mengetahui kelemahan pesaing anda .

Ayo mulai sekarang ciptakan job description baru di perusahaan anda yakni pemantau surat pembaca untuk mengetahui komplain dan keluhan pelanggan dan konsumen anda . Jangan sampai pesaing anda memanfaatkan surat pembaca untuk memenangkan persaingan bisnis.

konsultansolusi@gmail.com

Membaca epaper Kompas harus bayar Rp. 50 ribu per bulan, smart marketing atau marketing blunder ?

Koran Kompas adalah harian beroplah terbesar di Indonesia . Namun di era digital dan perkembangan internet yang sangat pesat saat ini , tantangan yang dihadapi koran Kompas adalah kecepatan berita , sifat real time berita , generasi muda yang lebih akrab dengan gadget digital termasuk komputer. Tantangan ini dapat mempengaruhi oplah koran Kompas tentunya.

Pernahkan harian Kompas mengadakan survei untuk mengetahui seberapa besar persentase generasi muda terutama generasi ABG yang masih membaca koran ? Saya yakin generasi ABG sekarang sudah jarang sekali membaca koran secara fisik karena media digital lebih akrab dengan keseharian generasi muda tersebut.

Update terbaru Juli 2013 :  Akhirnya Kompas mengizinkan pelanggan koran cetak Kompas untuk membaca epaper Kompas dengan syarat harus melampirkan scan atau foto kwitansi langganan koran Kompas atau mengirimkan sms  dan isi data yang diberikan ke Kompas meliputi data no KTP segala .  Sungguh gila , Kompas masih belum rela memberikan kesempatan untuk membaca epaper Kompas dengan cara yang paling mudah tanpa harus memberikan data pribadi anda secara detil ke Kompas .  Jika anda memberikan data detil sampai no KTP anda segala ke sebuah perusahaan ( ingat Kompas adalah perusahaan komersil yang mencari untung ) seperti penerbit kartu kredit tentunya suka tidak suka anda harus berikan karena anda diberikan hak berhutang sebesar limit kartu kredit yang anda peroleh , lha  ini anda hanya mau memperoleh hak membaca koran Kompas langganan anda ( anda sudah berlangganan lewat loper koran terdekat di rumah anda dan belum tentu lewat agen yang ditunjuk Kompas ) anda masih harus memberikan data detil termasuk KTP . Coba cek saat anda berlangganan koran Kompas lewat loper terdekat di rumah anda , apakah anda dimintain data detil termasuk no KTP ? Pasti anda tidak jadi berlangganan atau malah anda gampar loper koran yang kurang ajar meminta data detil anda hanya untuk berlangganan koran . Melamar kerja minta KTP masih masuk di akal karena anda berharap diberikan pekerjaan , ikut undian berhadiah memberikan no KTP masih masuk di akal karena anda berharap di kasih hadiah , memberikan no KTP dan data detil buat baca epaper Kompas adalah hal sontoloyo karena anda justru membantu Kompas supaya makin banyak pengiklan yang beriklan di koran Kompas karena makin banyak yang baca epaper kan makin banyak yang mau beriklan dan makin besar omzet dan laba Kompas , kok anda membantu Kompas cari untung malah dimintain data sangat detil termasuk KTP.   Memang dasarnya Kompas sudah terlena oleh monopoli aturan media cetak di era orde lama dan belum adanya internet sehingga Kompas terseok seok habis menghadapi era kebebasan media dan perkembangan internet serta perilaku generasi muda yang tidak baca koran cetak lagi dimana banyak media berita online bermunculan menghantam eksistensi Kompas.  Kompas , teruskan cara cara anda yang ribet dan rumit hanya untuk membantu anda meningkatkan jumlah pembaca epaper anda dan dijamin omzet Kompas pasti makin menurun .  Cara berpikir petinggi suatu perusahaan menentukan eksistensi dan kemajuan perusahaan .

 

 

Melihat tantangan diatas , sangat mengherankan Kompas sejak bulan Mei 2011 mengenakan biaya sebesar Rp. 50 ribu per bulan untuk dapat membaca epaper harian Kompas .

Kenapa mengherankan ?

Seseorang yang berlangganan harian Kompas secara fisik paling hanya membayar sebesar Rp.  78 ribu rupiah per bulan di tahun 2011 dan mendapatkan koran Kompas secara fisik dalam bentuk cetakan diatas kertas dan setiap pagi diantarkan ke rumah atau kantor . Kertas koran harian Kompas tersebut kalau sudah lewat waktu masih dapat dijual ke loakan atau dijadikan pembungkus . Dan satu hal yang pasti , dengan harga sebesar Rp. 78 ribu rupiah per bulan tersebut sudah tercantum unsur keuntungan loper koran sehingga Rp. 78 ribu rupiah per bulan tidak secara penuh masuk ke kantong Kompas tapi harus dibagi dengan loper koran.

Sesorang yang berlangganan harian Kompas secara digital / epaper harus membayar Rp. 50 ribu rupiah per bulan dan tidak mendapatkan koran secara fisik sehingga tidak ada kertas koran yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan pembungkus atau diloakin .  Untuk memperoleh epaper harian Kompas harus membayar biaya listrik , biaya langganan internet ke ISP atau pulsa jika menggunakan provider mobile .

Bukankah biaya langganan epaper harian Kompas menjadi mahal jika melihat faktor diatas.  Jika biaya langganan epaper Kompas dikenakan sebesar Rp. 25 ribu per bulan masih masuk diakal dan rasional jika melihat perbandingan diatas.

Hal lain yang dapat dilakukan harian Kompas jikalau cukup cerdas adalah memberikan bonus akses ke epaper harian Kompas jika berlangganan harian Kompas secara fisik.  Bukankah saat ini generasi muda terutama ABG jarang membaca koran secara fisik ?  Jika orang tuanya berlangganan koran Kompas secara fisik dan mendapatkan bonus akses ke epaper Kompas , tentunya si orang tua dapat memberikan bonus akses ke epaper Kompas kepada anaknya yang masih ABG sehingga sejak muda anaknya telah dipupuk untuk menjadi pelanggan harian Kompas .

Saya pribadi tidak berlangganan Kompas secara fisik lagi semenjak internet broadband mulai populer di Indonesia. Saya tidak yakin harian Kompas cukup cerdas untuk merangkul generasi muda untuk mulai dipupuk menjadi pelanggan setia mengingat saat epaper masih gratis saja harian Kompas sudah memperlihatan sifat kolotnya dengan memaksakan pengguna wajib menggunakan produk Microsoft Silverlight yang tidak populer untuk membaca epaper Kompas , padahal format populer epaper adalah Adobe PDF.

Sampai hari ini saya masih membaca epaper harian Kompas setiap hari , bukan untuk memperoleh informasi berita tapi untuk membaca Iklan dari perusahaan yang masih memasang Iklan di harian Kompas.

Apakah saya berlangganan epaper harian Kompas untuk dapat membaca harian Kompas setiap hari ?  Jawabannya ada di Google . Silahkan search di Google kata kata ” koran gratis ” dan anda akan menemukan jawabannya.

http://www.konsultansolusi.com

Artikel lain tentang Kompas :

https://konsultansolusi.com/2013/04/14/kompas-kedodoran-dalam-persaingan-bisnis-media/

Gambar Iklan tidak sesuai kenyataan – Iklan makanan cepat saji McDonald’s Indonesia

Iklan terkadang dibuat berlebihan . Tujuan iklan adalah memikat orang untuk membeli atau menggunakan sehingga biasanya tampilan gambar atau foto iklan dibuat sebagus dan secantik mungkin dan yang pasti sesuai kenyataan . Iklan handphone pasti berusaha memberikan gambaran bentuk ukuran handphone sebenarnya jika tampil pertama kali di media cetak.

Tapi ada yang aneh dengan iklan makanan cepat saji McDonald’s ini yang tampil di  harian Kompas tgl 27 Januari 2012

 

 

Kalau melihat gambar iklan di atas , saya jadi membayangkan mendapatkan bentuk sajian yang sama saat makan di restoran McDonald’s di Indonesia .

Pertanyaannya : Pernakah anda makan di McDonald’s di Indonesia dengan penyajian di atas piring dan mendapatkan softdrink yang disajikan di dalam gelas beling ?   Kalau pernah , berarti iklan itu sesuai kenyataan , kalau tidak berarti iklan itu terlalu berlebihan dan tidak sesuai kenyataan.

———————————-

konsultansolusi@gmail.com

Yellow Pages atau halaman kuning sudah kuno

Dahulu adalah suatu kebanggan jika sebuah perusahaan dapat muncul di Yellow Pages karena berarti perusahaan tersebut sudah masuk dalam radar calon konsumen .

Kebanggan muncul di Yellow Pages tersebut saat ini sudah tidak ada lagi .  Dahulu untuk menemukan suatu produk  di Yellow Pages , seseorang harus mencari dulu di daftar isi , jenis usaha atau jenis produk , halaman , huruf  , barulah produk atau perusahaan yang dicari ditemukan .

Dahulu untuk muncul di yellow pages dalam ukuran tertentu ataupun dalam jumlah baris lebih dari jumlah tertentu harus membayar biaya tahunan dan makin besar ukuran tampilan makin mahal pula biaya yang harus dibayar.  Belum lagi penebangan hutan yang terjadi karena tiap tahun kita memperolah  yellow pages dalam bentuk lembaran buku yang tebalnya bukan main  sampai dapat dibuat menjadi ganjalan tempat duduk atau ganjalan menambah tinggi saat foto di studio foto.

( sumber  http://searchengineland.com/is-yellow-pages-becoming-an-obsolete-concept-38752 )

Dengan munculnya internet , maka perusahaan berkewajiban memiliki website  karena saat ini orang mencari produk tidak menggunakan pakem tertentu lagi .  Dahulu saat masih menggunakan yellow pages misalnya kita ingin mencari produk pemadam api maka kita harus mencari di daftar isi dahulu kata “pemadam api” ada di halaman berapa dan ternyata di yellow pages kata “ pemadam api “ dituliskan dengan kata “ tabung pemadam api” sehingga kita diarahkan menggunakan kata “ tabung pemadam api” dan terdapat dihalaman sekian sampai sekian . Semua ada pakemnya.

Dengan website saat ini , jika kita ingin mencari penjual tabung pemadam api , maka kita dapat menggunakan mesin pencari seperti Google dan mengetikkan kata “ pemadam api”, atau “ tabung pemadam api” atau “ tabung extinguisher” atau bahkan “ pemadam kebakaran” . Tidak ada pakem yang mengatur , semua kata pencarian terserah apa yang muncul dari otak kita .

Masalah terbesar di era internet sekarang bukanlah memiliki website belaka . Jika memiliki website sudah cukup maka kita kembali ke jaman yellow pages dimana jika kita sudah muncul di yellow pages maka sudah cukup karena toh yang membutuhkan pasti menemukan kita melalui daftar isi .

Saat ini memiliki website dan muncul di mesin pencari seperti Google adalah dua hal yang berbeda .

Kita tidak dapat mengontrol isi pikiran calon konsumen saat menggunakan mesin pencari seperti Google.  Jika mencari produk semisal pemadam api maka banyak kata yang dapat dipakai seperti contoh diatas.

Masalah utama setelah memiliki website adalah bagaimana caranya muncul di halaman pertama mesin pencari seperti Google.  Isi setiap website pasti masuk ke dalam database mesin pencari seperti Google .  Tapi muncul di halaman pertama mesin pencari yang hanya memunculkan 10 hasil pencarian jika di Google adalah suatu perjuangan yang membutuhkan usaha .

Dahulu jika menggunakan yellow pages maka anda yang memiliki usaha yang memiliki nama perusahaan atau merek yang dimulai dengan abjad “ a “ pasti senang karena pasti muncul di urutan teratas dalam halaman produk anda di lembaran yellow pages atau jika anda memiliki dana besar pasti tenang karena iklan anda pasti muncul dalam ukuran besar atau jumbo di yellow pages.

Namun kondisi saat ini dengan kondisi jaringan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan , sedikit sedikit calon konsumen menggunakan internet dan mesin pencari untuk mencari suatu produk atau perusahaan atau bisnis atau usaha.

Jika anda bergerak di bidang konsultan pajak misalnya , jika ada calon konsumen mencari kata “pajak” maka akan ada 47.600.000 ( empat tujuh juta enam ratus ribu ) hasil pencarian kata “ pajak” di Google dan hanya memberikan 10 tempat di halaman pertama untuk pencarian kata “pajak” dari hasil 4.760.000 halaman hasil pencarian Google. Berarti kesempatan untuk muncul di halaman pertama Google adalah 1 banding 4.760.000 untuk kata “pajak”.

Hal ini membuktikan bahwa di era jaringan internet sudah menjadi bagian kehidupan , memenangkan persaingan dalam menjadi 10 besar tenar atau 10 besar ngetop adalah jauh lebih sulit dibanding era yellow pages.

Ada metode yang menggunakan dana untuk muncul di halaman pertama mesin pencari seperti Google yakni Adwords tapi cara ini tidak langgeng dan belum tentu efektif serta kemungkinan membutuhkan budget dana yang besar.

Hanya pengalaman dan kecerdikanlah yang dapat membuat usaha atau produk atau merek atau bisnis anda muncul dalam 10 besar hasil pencarian mesin pencari seperti Google.

Untuk info pengembangan usaha , anda dapat email ke :

konsultansolusi@gmail.com

www.konsultansolusi.com

Awan Tag