Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Archive for Januari, 2012

Siapa yang masih pakai kamera dengan film roll dan siapa yang masih sering cetak foto di pusat cuci cetak foto ? Perubahan ke arah digital dan era internet harus diantisipasi perusahaan di bidang lain

Istilah cuci cetak foto dahulu sangat populer karena setiap kamera yang menggunakan rol film pasti harus dicuci dulu baru bisa dicetak .

Hari ini siapa yang masih menggunakan kamera dengan rol film ?  Siapa yang masih cuci cetak foto ?

Di era digital saat ini , yang ada adalah cetak foto karena tidak perlu dicuci lagi dan untuk mencetak pun tidak perlu ke pusat cuci cetak foto tapi cukup cetak sendiri dengan printer warna atau ke tetangga atau teman yang memiliki printer warna dan mencetaknya disana . Hal ini dikarenakan harga printer warna dan tinta warna yang terjangkau dan cukup murah.

Di era digital saat ini , setiap orang bebas jepret sana jepret sini sepuas puasnya sesuai kapasitas memory card dari kamera atau handphonenya atau gadgetnya tanpa perlu takut salah seperti saat masih memakai rol film.

Tapi semakin banyak jepret bukan berarti semakin banyak mencetak foto karena hasil jepretan justru disimpan di hardisk atau dipindahkan ke facebook untuk dipamerkan ke publik tanpa harus dicetak .

Jadi era digital tidak membawa berkah bagi pusat cuci cetak foto dan kalaupun masih ada yang mencetak foto , umumnya menggunakan printer warna dan mencetak sendiri.

Inilah yang disebut bencana yang menimpa perusahaan dibidang fotografi .

Di awal 2012 , Kodak mengajukan perlindungan kebangkrutan di Amerika. Pusat cuci cetak foto juga banyak yang tutup di Indonesia.

Sebenarnya Kodak sudah menemukan kamera digital di tahun 1970 an , namun sengaja tidak dikembangkan karena takut memakan pasar penjualan rol filmnya dan akhirnya pada saat kamera digital mulai populer , Kodak terlambat mengantisipasi perubahan dan terlambat masuk ke pasar kamera digital.

Perubahan terbaru saat ini yang mulai terjadi adalah mulai bergesernya pocket kamera atau compat kamera ke  ponsel dikarenakan ponsel saat ini mulai menyediakan kamera berpixel tinggi dan berkualitas tinggi . Ini mulai menjadi alarm lonceng kematian bagi pasar kamera poket dan kamera compact.

Munculnya smartphone seperti Iphone, ponsel berbasis Android atau Windows yang dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi , software edit yang terinstall di ponsel dan langsung bisa dikirim ke media internet seperti facebook atau twitter menjadikan ponsel sebagai pembunuh kamera pocket dan kamera compact.

Anda tiap hari pasti membawa ponsel disisi anda bahkan saat tidurpun ada disisi anda dan hal ini berarti anda membawa kamera setiap hari disisi anda. Untuk apa lagi memiliki kamera poket atau kamera compact ?

Di era awal 1990 , fenomena kamera analog dan rol film digusur kamera digital dan kamera digital digusur ponsel smartphone telah terjadi di produk pager.

Siapa yang lahir di bawah tahun 70 an yang tidak mengetahui produk pager ? Merek Starko dan Starpage dahulu sangat terkenal sebagai media komunikasi satu arah dan hari ini produk tersebut menghilang dan tidak dikenal oleh anda yang lahir di era setelah tahun 1980 . Produk pager dibunuh oleh ponsel yang mulai muncul di era tahun 1990.

Pada dasarnya setiap perusahaan wajib menyesuaikan diri dengan perubahan dan tentunya tidak ingin menjadi contoh produk yang hilang karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan.

Saat ini di era digital , era online , era internet , era broadband , masih banyak perusahaan yang tidak siap mengantisipasinya dan masih berkutat di saluran penjualan tradisional dan saluran pemasaran tradisional dan bahkan backofficenya pun masih menggunakan produk tradisional .

Untuk perusahaan perusahaan tersebut , bersiap siaplah untuk berubah , menyesuaikan diri atau hilang ditelan perubahan

http://www.konsultansolusi.com

konsultansolusi@gmail.com

 

Iklan

Membaca epaper Kompas harus bayar Rp. 50 ribu per bulan, smart marketing atau marketing blunder ?

Koran Kompas adalah harian beroplah terbesar di Indonesia . Namun di era digital dan perkembangan internet yang sangat pesat saat ini , tantangan yang dihadapi koran Kompas adalah kecepatan berita , sifat real time berita , generasi muda yang lebih akrab dengan gadget digital termasuk komputer. Tantangan ini dapat mempengaruhi oplah koran Kompas tentunya.

Pernahkan harian Kompas mengadakan survei untuk mengetahui seberapa besar persentase generasi muda terutama generasi ABG yang masih membaca koran ? Saya yakin generasi ABG sekarang sudah jarang sekali membaca koran secara fisik karena media digital lebih akrab dengan keseharian generasi muda tersebut.

Update terbaru Juli 2013 :  Akhirnya Kompas mengizinkan pelanggan koran cetak Kompas untuk membaca epaper Kompas dengan syarat harus melampirkan scan atau foto kwitansi langganan koran Kompas atau mengirimkan sms  dan isi data yang diberikan ke Kompas meliputi data no KTP segala .  Sungguh gila , Kompas masih belum rela memberikan kesempatan untuk membaca epaper Kompas dengan cara yang paling mudah tanpa harus memberikan data pribadi anda secara detil ke Kompas .  Jika anda memberikan data detil sampai no KTP anda segala ke sebuah perusahaan ( ingat Kompas adalah perusahaan komersil yang mencari untung ) seperti penerbit kartu kredit tentunya suka tidak suka anda harus berikan karena anda diberikan hak berhutang sebesar limit kartu kredit yang anda peroleh , lha  ini anda hanya mau memperoleh hak membaca koran Kompas langganan anda ( anda sudah berlangganan lewat loper koran terdekat di rumah anda dan belum tentu lewat agen yang ditunjuk Kompas ) anda masih harus memberikan data detil termasuk KTP . Coba cek saat anda berlangganan koran Kompas lewat loper terdekat di rumah anda , apakah anda dimintain data detil termasuk no KTP ? Pasti anda tidak jadi berlangganan atau malah anda gampar loper koran yang kurang ajar meminta data detil anda hanya untuk berlangganan koran . Melamar kerja minta KTP masih masuk di akal karena anda berharap diberikan pekerjaan , ikut undian berhadiah memberikan no KTP masih masuk di akal karena anda berharap di kasih hadiah , memberikan no KTP dan data detil buat baca epaper Kompas adalah hal sontoloyo karena anda justru membantu Kompas supaya makin banyak pengiklan yang beriklan di koran Kompas karena makin banyak yang baca epaper kan makin banyak yang mau beriklan dan makin besar omzet dan laba Kompas , kok anda membantu Kompas cari untung malah dimintain data sangat detil termasuk KTP.   Memang dasarnya Kompas sudah terlena oleh monopoli aturan media cetak di era orde lama dan belum adanya internet sehingga Kompas terseok seok habis menghadapi era kebebasan media dan perkembangan internet serta perilaku generasi muda yang tidak baca koran cetak lagi dimana banyak media berita online bermunculan menghantam eksistensi Kompas.  Kompas , teruskan cara cara anda yang ribet dan rumit hanya untuk membantu anda meningkatkan jumlah pembaca epaper anda dan dijamin omzet Kompas pasti makin menurun .  Cara berpikir petinggi suatu perusahaan menentukan eksistensi dan kemajuan perusahaan .

 

 

Melihat tantangan diatas , sangat mengherankan Kompas sejak bulan Mei 2011 mengenakan biaya sebesar Rp. 50 ribu per bulan untuk dapat membaca epaper harian Kompas .

Kenapa mengherankan ?

Seseorang yang berlangganan harian Kompas secara fisik paling hanya membayar sebesar Rp.  78 ribu rupiah per bulan di tahun 2011 dan mendapatkan koran Kompas secara fisik dalam bentuk cetakan diatas kertas dan setiap pagi diantarkan ke rumah atau kantor . Kertas koran harian Kompas tersebut kalau sudah lewat waktu masih dapat dijual ke loakan atau dijadikan pembungkus . Dan satu hal yang pasti , dengan harga sebesar Rp. 78 ribu rupiah per bulan tersebut sudah tercantum unsur keuntungan loper koran sehingga Rp. 78 ribu rupiah per bulan tidak secara penuh masuk ke kantong Kompas tapi harus dibagi dengan loper koran.

Sesorang yang berlangganan harian Kompas secara digital / epaper harus membayar Rp. 50 ribu rupiah per bulan dan tidak mendapatkan koran secara fisik sehingga tidak ada kertas koran yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan pembungkus atau diloakin .  Untuk memperoleh epaper harian Kompas harus membayar biaya listrik , biaya langganan internet ke ISP atau pulsa jika menggunakan provider mobile .

Bukankah biaya langganan epaper harian Kompas menjadi mahal jika melihat faktor diatas.  Jika biaya langganan epaper Kompas dikenakan sebesar Rp. 25 ribu per bulan masih masuk diakal dan rasional jika melihat perbandingan diatas.

Hal lain yang dapat dilakukan harian Kompas jikalau cukup cerdas adalah memberikan bonus akses ke epaper harian Kompas jika berlangganan harian Kompas secara fisik.  Bukankah saat ini generasi muda terutama ABG jarang membaca koran secara fisik ?  Jika orang tuanya berlangganan koran Kompas secara fisik dan mendapatkan bonus akses ke epaper Kompas , tentunya si orang tua dapat memberikan bonus akses ke epaper Kompas kepada anaknya yang masih ABG sehingga sejak muda anaknya telah dipupuk untuk menjadi pelanggan harian Kompas .

Saya pribadi tidak berlangganan Kompas secara fisik lagi semenjak internet broadband mulai populer di Indonesia. Saya tidak yakin harian Kompas cukup cerdas untuk merangkul generasi muda untuk mulai dipupuk menjadi pelanggan setia mengingat saat epaper masih gratis saja harian Kompas sudah memperlihatan sifat kolotnya dengan memaksakan pengguna wajib menggunakan produk Microsoft Silverlight yang tidak populer untuk membaca epaper Kompas , padahal format populer epaper adalah Adobe PDF.

Sampai hari ini saya masih membaca epaper harian Kompas setiap hari , bukan untuk memperoleh informasi berita tapi untuk membaca Iklan dari perusahaan yang masih memasang Iklan di harian Kompas.

Apakah saya berlangganan epaper harian Kompas untuk dapat membaca harian Kompas setiap hari ?  Jawabannya ada di Google . Silahkan search di Google kata kata ” koran gratis ” dan anda akan menemukan jawabannya.

http://www.konsultansolusi.com

Artikel lain tentang Kompas :

https://konsultansolusi.com/2013/04/14/kompas-kedodoran-dalam-persaingan-bisnis-media/

Gambar Iklan tidak sesuai kenyataan – Iklan makanan cepat saji McDonald’s Indonesia

Iklan terkadang dibuat berlebihan . Tujuan iklan adalah memikat orang untuk membeli atau menggunakan sehingga biasanya tampilan gambar atau foto iklan dibuat sebagus dan secantik mungkin dan yang pasti sesuai kenyataan . Iklan handphone pasti berusaha memberikan gambaran bentuk ukuran handphone sebenarnya jika tampil pertama kali di media cetak.

Tapi ada yang aneh dengan iklan makanan cepat saji McDonald’s ini yang tampil di  harian Kompas tgl 27 Januari 2012

 

 

Kalau melihat gambar iklan di atas , saya jadi membayangkan mendapatkan bentuk sajian yang sama saat makan di restoran McDonald’s di Indonesia .

Pertanyaannya : Pernakah anda makan di McDonald’s di Indonesia dengan penyajian di atas piring dan mendapatkan softdrink yang disajikan di dalam gelas beling ?   Kalau pernah , berarti iklan itu sesuai kenyataan , kalau tidak berarti iklan itu terlalu berlebihan dan tidak sesuai kenyataan.

———————————-

konsultansolusi@gmail.com

Awan Tag