Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Koran Kompas adalah harian beroplah terbesar di Indonesia . Namun di era digital dan perkembangan internet yang sangat pesat saat ini , tantangan yang dihadapi koran Kompas adalah kecepatan berita , sifat real time berita , generasi muda yang lebih akrab dengan gadget digital termasuk komputer. Tantangan ini dapat mempengaruhi oplah koran Kompas tentunya.

Pernahkan harian Kompas mengadakan survei untuk mengetahui seberapa besar persentase generasi muda terutama generasi ABG yang masih membaca koran ? Saya yakin generasi ABG sekarang sudah jarang sekali membaca koran secara fisik karena media digital lebih akrab dengan keseharian generasi muda tersebut.

Update terbaru Juli 2013 :  Akhirnya Kompas mengizinkan pelanggan koran cetak Kompas untuk membaca epaper Kompas dengan syarat harus melampirkan scan atau foto kwitansi langganan koran Kompas atau mengirimkan sms  dan isi data yang diberikan ke Kompas meliputi data no KTP segala .  Sungguh gila , Kompas masih belum rela memberikan kesempatan untuk membaca epaper Kompas dengan cara yang paling mudah tanpa harus memberikan data pribadi anda secara detil ke Kompas .  Jika anda memberikan data detil sampai no KTP anda segala ke sebuah perusahaan ( ingat Kompas adalah perusahaan komersil yang mencari untung ) seperti penerbit kartu kredit tentunya suka tidak suka anda harus berikan karena anda diberikan hak berhutang sebesar limit kartu kredit yang anda peroleh , lha  ini anda hanya mau memperoleh hak membaca koran Kompas langganan anda ( anda sudah berlangganan lewat loper koran terdekat di rumah anda dan belum tentu lewat agen yang ditunjuk Kompas ) anda masih harus memberikan data detil termasuk KTP . Coba cek saat anda berlangganan koran Kompas lewat loper terdekat di rumah anda , apakah anda dimintain data detil termasuk no KTP ? Pasti anda tidak jadi berlangganan atau malah anda gampar loper koran yang kurang ajar meminta data detil anda hanya untuk berlangganan koran . Melamar kerja minta KTP masih masuk di akal karena anda berharap diberikan pekerjaan , ikut undian berhadiah memberikan no KTP masih masuk di akal karena anda berharap di kasih hadiah , memberikan no KTP dan data detil buat baca epaper Kompas adalah hal sontoloyo karena anda justru membantu Kompas supaya makin banyak pengiklan yang beriklan di koran Kompas karena makin banyak yang baca epaper kan makin banyak yang mau beriklan dan makin besar omzet dan laba Kompas , kok anda membantu Kompas cari untung malah dimintain data sangat detil termasuk KTP.   Memang dasarnya Kompas sudah terlena oleh monopoli aturan media cetak di era orde lama dan belum adanya internet sehingga Kompas terseok seok habis menghadapi era kebebasan media dan perkembangan internet serta perilaku generasi muda yang tidak baca koran cetak lagi dimana banyak media berita online bermunculan menghantam eksistensi Kompas.  Kompas , teruskan cara cara anda yang ribet dan rumit hanya untuk membantu anda meningkatkan jumlah pembaca epaper anda dan dijamin omzet Kompas pasti makin menurun .  Cara berpikir petinggi suatu perusahaan menentukan eksistensi dan kemajuan perusahaan .

 

 

Melihat tantangan diatas , sangat mengherankan Kompas sejak bulan Mei 2011 mengenakan biaya sebesar Rp. 50 ribu per bulan untuk dapat membaca epaper harian Kompas .

Kenapa mengherankan ?

Seseorang yang berlangganan harian Kompas secara fisik paling hanya membayar sebesar Rp.  78 ribu rupiah per bulan di tahun 2011 dan mendapatkan koran Kompas secara fisik dalam bentuk cetakan diatas kertas dan setiap pagi diantarkan ke rumah atau kantor . Kertas koran harian Kompas tersebut kalau sudah lewat waktu masih dapat dijual ke loakan atau dijadikan pembungkus . Dan satu hal yang pasti , dengan harga sebesar Rp. 78 ribu rupiah per bulan tersebut sudah tercantum unsur keuntungan loper koran sehingga Rp. 78 ribu rupiah per bulan tidak secara penuh masuk ke kantong Kompas tapi harus dibagi dengan loper koran.

Sesorang yang berlangganan harian Kompas secara digital / epaper harus membayar Rp. 50 ribu rupiah per bulan dan tidak mendapatkan koran secara fisik sehingga tidak ada kertas koran yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan pembungkus atau diloakin .  Untuk memperoleh epaper harian Kompas harus membayar biaya listrik , biaya langganan internet ke ISP atau pulsa jika menggunakan provider mobile .

Bukankah biaya langganan epaper harian Kompas menjadi mahal jika melihat faktor diatas.  Jika biaya langganan epaper Kompas dikenakan sebesar Rp. 25 ribu per bulan masih masuk diakal dan rasional jika melihat perbandingan diatas.

Hal lain yang dapat dilakukan harian Kompas jikalau cukup cerdas adalah memberikan bonus akses ke epaper harian Kompas jika berlangganan harian Kompas secara fisik.  Bukankah saat ini generasi muda terutama ABG jarang membaca koran secara fisik ?  Jika orang tuanya berlangganan koran Kompas secara fisik dan mendapatkan bonus akses ke epaper Kompas , tentunya si orang tua dapat memberikan bonus akses ke epaper Kompas kepada anaknya yang masih ABG sehingga sejak muda anaknya telah dipupuk untuk menjadi pelanggan harian Kompas .

Saya pribadi tidak berlangganan Kompas secara fisik lagi semenjak internet broadband mulai populer di Indonesia. Saya tidak yakin harian Kompas cukup cerdas untuk merangkul generasi muda untuk mulai dipupuk menjadi pelanggan setia mengingat saat epaper masih gratis saja harian Kompas sudah memperlihatan sifat kolotnya dengan memaksakan pengguna wajib menggunakan produk Microsoft Silverlight yang tidak populer untuk membaca epaper Kompas , padahal format populer epaper adalah Adobe PDF.

Sampai hari ini saya masih membaca epaper harian Kompas setiap hari , bukan untuk memperoleh informasi berita tapi untuk membaca Iklan dari perusahaan yang masih memasang Iklan di harian Kompas.

Apakah saya berlangganan epaper harian Kompas untuk dapat membaca harian Kompas setiap hari ?  Jawabannya ada di Google . Silahkan search di Google kata kata ” koran gratis ” dan anda akan menemukan jawabannya.

http://www.konsultansolusi.com

Artikel lain tentang Kompas :

https://konsultansolusi.com/2013/04/14/kompas-kedodoran-dalam-persaingan-bisnis-media/

Iklan

Comments on: "Membaca epaper Kompas harus bayar Rp. 50 ribu per bulan, smart marketing atau marketing blunder ?" (1)

  1. suhandi said:

    Kompas harus nya membuat evaluasi atas segmen pelanggan nya yang nota bene tda segmen dgn karakter khas diantara nya : Kalangan dgn akses dan minat khas yakni kekompok menengah (Usia, penghasilan dan kesadaran khas pula atas perubahan zaman). Jika pengambil keputusan Kompas masih “top down” dalam rancangan kelola bisnis nya ya repot. Mbok ya sadar perubahaan, apa tidak “ngeh” bangkrut nya penerbitan dunia goro-goro dikelola manajemen konservatif tadi. ? Hal lain: Program HUT Proklamasi yg Kompas jajak pasar dgn discount 71% Nyata nya “feasible” toh ? ( mangka nya di luncurkan… Coba diterus kan segmentasi ini : Ada yg hanya Cetak, Ada kombinasi Cetak plus digital ; dan hanya digital: Yg harga nya harus kompetitif.
    Jadi, buat lah FGD : Emang nya hidup terus tuh para Petinggi Kompas yg saat ini jadi pemutus strategi bisnis ?.
    Tunggu meninggal dunia dulu baru ada pembaharuan ? Sayang sekali..Peran “kebegawanan” Kompas yg mengawal akal sehat masyarakat NKRI SEIRING sejarah NKRI ini janganlah di cemari dgn “keserakahaan konglomerasi” para pemegang saham Korporasi. Toh mayoritas masyarakat NKRI paham bahwa korporasi penting utk menjaga martabat tetap begawan. Korporasi gurita Grup Kompas sudah lebih dari cukup utk 7 turunan pemegang saham korporasi ( ada gurita Hotel, TV, dst nya)
    Jagalah Peran Kebegawanan Kompas menyeimbangkan kompleksitas kehidupan bernegara dan berbangsa NKRI. Perluas akses masyarakat ke Kompas yg sederhana nya : Harga !
    segmentasi ( Hanya digital; Kombinasi Digital + Cetak; hanya cetak). Coba survey profil pelanggan: Antisipasi perubahaan teknologi digital, industri ramah lingkungan ( bahan baku kertas adh pohon kan ? ) Dorong pembaca : tren gawai tambah maju dan mengedepan yg boleh jadi menciutkan pembeli koran cetak) memperbesar pembaca digital ( jaga keserakahaan konglomerasi) Harga ! Yaitu harga rasional pelanggan digital ( mitra dagang alias pemasang iklan nya kan khas pula- mereka menyasar pelanggan khas. Semoga opini ini gak bikin Pemegang saham sewot. Kompas akan bertahan jika mau beradaptasi. sekian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: