Cara Berpikir Menentukan Suksesnya Perusahaan

Archive for Juli, 2013

Pasar Kopi Indonesia – Kecerdikan Kopi Luwak White Koffie

Pasar kopi di Indonesia sangat besar dan jumlah peminum kopi di Indonesia sangat besar .  Indonesia adalah pasar yang besar untuk produk rokok terutama rokok kretek yang khas Indonesia  dan rata rata perokok di Indonesia pastilah peminum kopi juga.  Jumlah peminum kopi dari perokok ditambah dengan yang tidak merokok tentunya sangatlah besar di Indonesia. Perusahaan rokok di Indonesia saja omzetnya puluhan trilyun dengan laba trilyunan padahal sudah membayar cukai rokok yang tinggi.   Perusahaan kopi kemasan di Indonesia juga pastilah adalah perusahaan raksasa juga dengan omzet trilyunan dan untung minimal ratusan miliar.

Kita bisa sebut merek kopi Kapal Api dan kopi ABC dimiliki oleh group Kapal Api  ( jangan salah kaprah mengira kopi ABC adalah milik group makanan ABC atau Orang Tua group karena dalam sistem pendaftaran merek paten Indonesia group makanan ABC atau Orang Tua group lupa mendaftarkan merek ABC di kategori minuman kopi dan teh dan itulah cerdiknya Kapal Api ) merupakan perusahaan raksasa yang menjadi penguasa mayoritas pasar kopi dalam kemasan di Indonesia , di ikuti oleh merek Torabika dan Kopiko yang digawangi oleh Mayora yang juga merupakan perusahaan makanan raksasa di Indonesia dan pemain terbaru adalah Top Coffee yang di gawangi oleh Wings Group yang merupakan perusahaan raksasa juga di Indonesia dengan produk toiletries dan mie Sedap dan tidak dilupakan pemain terbaru yakni JJ Royal yang digawangi Sugar Group yang merupakan pemain raksasa dibidang produksi gula terutama gula dalam kemasan di Indonesia.

Melihat pasar kopi kemasan di Indonesia dikangkangi oleh raksasa raksasa bermodal besar dengan amunisi dana pemasaran yang kuat dan jaringan distribusi yang tentunya tersebar di seluruh Indonesia tentunya mustahil ada pemain baru yang dapat menembus pasar kopi kemasan di Indonesia  , apalagi kalau pemain baru tersebut berusaha masuk dengan modal kalah besar dengan raksasa raksasa tersebut .

Asumsi umum adalah kopi pasti hitam , kalau dicampur susu atau creamer namanya kopi susu . Perusahaan kopi kemasan semua pasti menganut paham kopi itu pasti hitam.

Paradigma kopi adalah hitam ternyata menjadi pintu masuk dalam mencuil pasar kopi dalam kemasan yang maha dahsyat besarnya di Indonesia .  Kopi merek Luwak yang notabene sebenarnya adalah pemain kecil dalam produk kopi dalam kemasan di Indonesia melihat cara baru untuk berbeda dalam persaingan di pasar kopi kemasan di Indonesia.

Pemilik kopi kemasan merek ” Luwak ” adalah perusahaan keluarga dari Semarang  yang sudah lama berkecimpung di bisnis kopi kemasan namun tidak terlalu menonjol dan malah lebih terlihat menonjol dalam mengoperasikan kafe ” Luwak ” di mal mal  di Indonesia.

Pemilik kopi merek ” Luwak ” mencoba membalikkan paradigma bahwa kopi pasti hitam warnanya dengan membuat produk kopi putih atau white coffee yang sebenarnya sudah lama beredar di Malaysia namun merupakan hal baru di Indonesia.

Sebagai perusahaan keluarga dengan modal yang pasti kalah besar dengan group group raksasa , perusahaan kopi merek ” Luwak ” mempromosikan produk kopi putih atau white coffee merek ” Luwak ” tersebut di media massa baik cetak , radio, internet maupun televisi dan ternyata produk kopi putih merek ” Luwak ” tersebut menjadi sangat populer dan sangat digemari masyarakt Indonesia yang sudah terbiasa minum kopi .

Kepopuleran kopi merek ” Luwak ” ini dibarengi dengan ketersediaan produk kopi putih merek ” Luwak ” di segala channel distribusi yang dapat dijangkau di Indonesia baik channel pasar modern maupun pasar tradisional sehingga produk kopi putih merek ” Luwak ” dapat diperoleh di minimarket , supermarket sampai warung rokok pinggir jalan sekalipun .

Hal ini menunjukkan kopi putih  merek ” Luwak ” sudah siap dengan penyebaran produk secara merata di segala channel pemasaran dan kesanggupan menggenjot peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang meledak sebab jika produk kopi putih merek ” Luwak ” meledak di pasaran namun produk tidak tersedia dan susah diperoleh tentunya hanya membuat gigit jari pemilik merek kopi ” Luwak ” dan nyatanya hal ini tidak terjadi dan sampai tulisan ini dibuat tgl 21 Juli 2013 , merek kopi ” Luwak ” untuk kopi putih masih sangat populer dan masih terus dikonsumsi oleh peminum kopi dan masih bertumbuh terus.

Kopi merek ” Luwak ” memperoleh momentum yang tepat untuk meledakkan produk kopi putih yakni  tingkat pendapatan masyarakt Indonesia yang semakin meningkat sehingga sudah bosan dengan produk yang itu itu saja yakni kalau kopi pasti pilihannya kopi instant , kopi instant susu, kopi tubruk dan kopi tubruk susu yang pastinya berbahan dasar kopi hitam dengan rasa manis karena sudah mengandung gula  serta juga dibantu oleh kata ” Luwak ” yang menjadi kata yang identik dengan produk kopi termahal di dunia karena berasal dari binantang ” Luwak ” sehingga kata  kopi luwak identik dengan kualitas kopi terbaik .

Untuk membedakan diri dengan pesaing pesaing dari perusahaan raksasa yang pasti akan ikut terjun ke produk kopi putih , kopi putih kemasan merek ” Luwak ” memberikan pembeda yakni di kemasannya di tulis ” Luwak White Koffie ”  kata coffee diganti koffie .

Kepopuleran kopi putih ” Luwak” dapat disaksikan langsung dalam kehidupan sehari hari yakni rata rata warung rokok pasti menjual kopi putih ” Luwak ” dan yang minum kopi putih ” Luwak ” berasal dari segala kalangan dan bahkan ronda jaga malam pun minum kopinya kopi putih ” Luwak “.

Kepopuleran produk kopi putih di Indonesia yang dirintis oleh cap ” Luwak ” ternyata membuat perusahaan kopi raksasa yang sudah menjadi pemain lama di Indonesia tersentak dan kaget dan akhirnya buru buru meluncurkan kopi putih juga dan semua nya memberi kata kata ” White Coffee ” dan hanya kopi  cap ” Luwak ” yang memberikan kata kata ” White Koffie ” . Hal ini menunjukkan kopi cap ” Luwak ” sudah memproteksi kemungkinan di serang pesaingnya yang notabene raksasa dengan mendaftarkan merek ” Luwak ” dan tulisan ” White Koffie ” sebagai bagian dari merek sehingga tidak ada pesaing yang dapat menggunakan kata kata tersebut lagi sebagai merek produk kopi .

Inilah yang disebut smart . Smart itu bukanlah pandai karena orang pandai belum tentu pintar .  Smart itu adalah dapat memprediksi semua kemungkinan terbaik yang dapat terjadi seperti meledaknya popularitas kopi putih merek ” Luwak ” yang langsung dijaga momentumnya dengan ketersediaan produk secara berkesinambungan di semua channel pemasaran dan kemungkinan terburuk kata ” White Coffee  ” menjadi kata generik dengan memberikan pembeda ” White Koffie ” yang dipatenkan sehingga tidak dapat dibajak oleh pesaing manapun.

Kelihatannya pemilik merek kopi ” Luwak ” belajar dari perusahaan 2 Tang yang berasal dari Jawa Tengah juga yang sukses meluncurkan kategori baru minuman jus jeruk dalam kemasan gelas yang sempat populer yakni Frutang namun akhirnya melempem karena banyaknya perusahaan raksasa dan perusahaan kelas UKM yang ikut menjual produk me too sejenis dengan harga murah .  Faktor melempemnya Frutang juga karena faktor peminum minuman jus jeruk dalam kemasan adalah peminum dadakan yang tidak memiliki ritual dan kebiasaan seperti kopi sehingga tingkat kesetiaan peminum sangat tidak mungkin diperoleh .

Sebelum kopi puthi cap Luwak muncul , sudah ada perusahaan kopi kemasan non raksasa yang mencoba masuk ke pasar kopi kemasan Indonesia dengan promosi besar besaran di media massa dan hasilnya melempem yakni Kopi Singa .

Perusahaan raksasa Kapal Api meluncurkan produk kopi putih dengan merek Kapal Api White Coffe dan Kapal Api Grande White Coffee serta ABC White Coffee , perusahaan raksasa Mayora yang memiliki merek Torabika dan Kopiko meluncurkan produk Kopiko White Coffee .   Anda dapat melihat kata White Coffee adalah kata generik untuk memberi informasi bahwa produk tersebut adalah kopi putih .

Yang salah momentum dan terjun ke produk kopi dengan modal besar dan promosi jor joran namun meluncurkan produk me too yang sudah menjadi paradigma umum bahwa kopi adalah hitam adalah Wings Group dengan Top Cofee yang tidak memiliki varian kopi putih .  Waktu yang akan menentukan apakah Wings Group sukes mencuil pasar kopi kemasan di Indonesia.

Update terbaru 12 Agustus 2013 :  Wings Food akhirnya gerah juga melihat kepopuleran kopi putih dan ikut latah meluncurkan Top White Coffee .  Belum mantap mencuil pasar di kopi hitam , Wings Food mau mencoba peruntungan di pasar kopi putih juga .

Berikut iklan kopi putih Top White Coffee dari Wings Food yang mulai tayang bulan Agustus 2013 di televisi :

 

Adalagi pemain baru dari group raksasa juga yakni JJ Royal kopi tubruk kemasan kwalitas premium dari Sugar Group.  Produk ini dipromosikan cukup gencar dengan iming iming memperoleh bonus gula kemasan merek Gulaku ukuran 750 gram .  Problemnya adalah kelihatannya JJ Royal digawangi anak pemilik Sugar Group yang lulusan luar negeri dan tidak pernah turun ke pasar baik pasar modern apalagi pasar tradisional sehingga promosi gencar tidak diikuti dengan ketersediaan produk di pasar . Saya pribadi adalah penggemar kopi dan mencari produk JJ Royal untuk menguji promosi kopi tubruk kualitas premium bukan untuk memperoleh hadiah gula kemasan tapi apa daya setelah saya ubek ubek di Superindo Muara Karang , Superindo Pantai Indah Kapuk yang notabene adalah supermarket  besar di kawasan berdaya beli tinggi  dan di Hari Hari Swalayan di Roxy Mas , saya tidak pernah menemukan produk kopi tubruk kemasan JJ Royal sampai promosi berhadiah gula kemasan berakhir dan sampai tanggal tulisan ini dibuat tgl 21 Juli 2013 saya masih belum berhasil menemukan kopi tubruk kemasan merek JJ Royal .  Owner dari kopi JJ Royal saya yakin pandai karena pasti lulusan luar negeri tapi saya yakin tidak smart karena promosi tidak dibarengi ketersediaan produk di channel pemasaran minimal channel pemasaran pasar modern.  Saya tidak mencoba mencari di pasar tradisional tapi saya yakin saya tidak akan menemukan di pasar tradisional karena di pasar modern saja yakni supermarket ( bukan minimarket ) saya tidak menemukan produk JJ Royal sama sekali .  Coba kalau JJ Royal di pegang oleh pemilik kopi cap ” Luwak ” , saya yakin saya pasti dapat menemukannya di jaringan minimarket juga . Ternyata sukses jual gula dalam kemasan tidak menjamin sukses jual kopi juga.

Jadi jika anda terjun ke bisnis dengan produk yang pasarnya besar namun sudah dikangkangi oleh pemain besar dan raksasa, jangan berkecil hati.  Cari faktor pembeda dan yakinlah jika faktor pembeda itu membuat produk anda sukses , anda harus siap dengan ketersediaan produk di semua channel marketing yang menjadi target distribusi anda dan target pasar anda.

kopi putih cap Luwak

kopi putih cap Luwak

kopi putih Kapal Api

kopi putih Kapal Api

Kopi Putih ABC

Kopi Putih ABC

minumkopikopiko

Kopi Top Coffee

Kopi Top Coffee

kopi hitam Top Coffee

kopi hitam Top Coffee

minumtopcoffee1

Kopi Singa

Kopi Singa

Kopi Tubruk JJ Royal

Kopi Tubruk JJ Royal

Kopi JJ Royal

Kopi JJ Royal

minuman Frutang

minuman Frutang

Ingat cerita David vs Goliath yakni manusia yang badannya kecil melawan raksasa dan pertarungan tersebut dimenangkan  manusia tersebut ?  Jangan berkecil hati dalam persaingan melawan raksasa bisnis asalkan anda smart .

manusia lawan raksasa

manusia lawan raksasa

Jika anda pemilik usaha yang sudah berdiri lama bingung harus memulai dari mana menghadapi persaingan dengan pesaing baru yang lincah mengadopsi teknologi dan tren terbaru , silahkan hubungi saya atau email ke  info@konsultansolusi.com  , saya siap berdiskusi dan saling berbagi pengalaman , ide dan pencerahan untuk membuka pikiran anda.

Iklan

Kompas anti konsumen

Anda bingung dengan judul tulisan di atas ?  Yang dimaksud Kompas anti konsumen artinya Kompas tidak butuh pembaca karena Kompas yakin tanpa pembaca pun pasti pengiklan akan antri habis habisan buat pasang iklan dan tanpa pembaca pun Kompas pasti tetap maju dan berkembang .

Nga percaya ?  Coba baca artikel artikel tentang Kompas ini :

https://konsultansolusi.com/2012/01/30/membaca-epaper-kompas-harus-bayar-rp-50-ribu-per-bulan-smart-marketing-atau-marketing-blunder/

https://konsultansolusi.com/2013/04/14/kompas-kedodoran-dalam-persaingan-bisnis-media/

Hal terbaru yang dilakukan Kompas adalah melakukan perubahaan besar atas tampilan , style dan jenis huruf atau font pada website Kompas.com .  Tentunya hal ini harus dilakukan oleh Kompas.com mengingat ada media berita online baru yang dalam waktu singkat berhasil memperoleh pembaca dalam jumlah besar padahal aslinya media berita online baru tersebut bukan berasal dari media cetak tradisional.

Sayangnya salah satu menu artikel paling top dan paling banyak dibaca orang dihilangkan dari halaman utama dan anda harus kili ke menu news di Kompas.com baru anda dapat melihat menu artikel tersebut .  Apakah menu artikel yang dihilangkan dari halaman utama Kompas.com tersebut ?

Surat Pembaca

Ya , Kompas.com menghilangkan menu Surat Pembaca dari halaman utama dan memindahkannya ke halaman berikutnya dengan mengklik  menu News dahulu baru muncul menu Surat Pembaca

Parahnya lagi adalah Kompas.com digawangi oleh petinggi petinggi yang sudah dicuci otak oleh Microsoft sehingga sangat Microsoft minded sehingga tampilan artikel tentang keluhan konsumen di menu Surat Pembaca hanya dapat dibaca sempurna jika anda menggunakan browser Internet Explorer.  Hal ini harus anda maklumi sebagai pembaca Kompas mengingat server internet Kompas pun berbasis windows server dengan berbagai menu berakhiran  .aspx dan bukan .php dan Kompas bukanlah pro open source  ( padahal Facebook sudah membuktikan opensource php tangguh dan dipakai habis habisan di Facebook )

Mau buktinya Kompas tidak pro konsumen karena membiarkan anda tidak dapat membaca artikel surat pembaca secara utuh kalau tidak memakai browser Internet Explorer ? ( Berapa persen sih pembaca Kompas yang memakai Internet Explorer saat ini ? ) dan artikel artikel di menu lain di Kompas.com semua normal dan utuh dapat dibaca dengan browser apapun dan hanya menu Surat Pembaca tidak dapat dibaca utuh .  Artikel di Surat Pembaca terpotong oleh tampilan iklan banner ( Kompas kan harus cari untung ) dan saya yakin seyakin yakinnya administrator web Kompas.com tahu sekali hal ini dan tidak diperbaiki  ( hal ini berlangsung sejak tampilan baru Kompas.com muncul )

Syukur kalau artikel ini membuat tampilan di menu Surat Pembaca di Kompas.com menjadi normal berarti tidak sia sia kritikan ini muncul dan kalau saat anda membaca Surat Pembaca di Kompas.com ternyata sudah normal , abaikan artikel saya ini karena sudah ada perbaikan di petinggi Kompas dan kalau anda membaca Kompas.com ternyata menu Surat Pembaca sudah muncul di halaman pertama , maka abaikan artikel saya ini juga karena berarti petinggi Kompas sudah berubah dan pro konsumen.  Jangan bilang saya bohong .

Ini Bukti per tanggal 21 Juli 2013 tampilan menu surat pembaca di Kompas.com ngaco selain di browser Internet Explore dan sampai tanggal 21 Juli menu Surat Pembaca di Kompas.com masih hilang dari halaman utama ( padalah di Kompas.com tampilan lama menu Surat Pembaca muncul di halaman utama ).

Screen Shot :

Menggunakan Internet Explorer

tampilan IE

tampilan IE

Menggunakan Chrome :

Tampilan Chrome

Tampilan Chrome

Menggunakan Firefox :

Tampilan Firefox

Tampilan Firefox

Hanya perusahaan yang bisa beradaptasi dengan perubahan zaman dan perubahan teknologi yang bisa survive dan maju.  Hanya perusahaan baru berdiri yang jago mengadopi teknologi terkini dan dapat memprediksi perkembangan teknologi di masa akan datang dan mengadopisinya dahulu yang akan maju dan hanya perusahaan yang sanggup menjalankan usahanya dan menghadapi persaingan melalui kaca mata pengguna nya serta digawangi oleh barisan tim sukses yang seumur dengan pengguna  mayoritas nya yang bisa sukses.

Jika anda pemilik usaha yang sudah berdiri lama bingung harus memulai dari mana menghadapi persaingan dengan pesaing baru yang lincah mengadopsi teknologi dan tren terbaru , silahkan hubungi saya atau email ke  info@konsultansolusi.com  , saya siap berdiskusi dan saling berbagi pengalaman , ide dan pencerahan untuk membuka pikiran anda.

Awan Tag